Kemana

Pada awalnya gue berencana hanya mengisi blog ini dengan puisi atau tulisan menye-menye romantis yang setiap diksinya sangat amat gue pilih dengan cermat, gue maunya kata-kata di blog gue harus EYD, dan segala macam kebakuan dalam berbahasa. Sungguh mulia memang rencana itu, namun apa daya tiba-tiba kamus di kepala gue mendadak bubrah dan lenyaplah setiap tabungan diksi dan akhirnya tidak menghasilkan apapun.

Setelah melalui masa kontemplasi, gue akhirnya menemukan satu fakta yang valid kebenarannya………

……………………..menurut gue

Bahwa sesungguhnya kita, oke ralat, gue sebagai manusia, secara sadar atau tidak sadar terkadang suka bermain sebagai korban a.k.a playing victim. Dulu, semakin gue merasa jadi korban patah hati, semakin merasa nelangsa semakin lancar gue nulis. Semakin gue menyelam dalam rasa sakit, maka semakin riuh kepala gue, dan semakin gue menulis dengan bahagia. Macam masokis ya, makin sakit makin orgasme.

Hal ini sebenarnya mulai gue sadari waktu seorang sahabat pernah bersabda, “Ta, Jangan nulis yang sedih-sedih mulu. Sekali-sekali nulis yang ceria”. Namun sekedar menyadari tentu saja tidak akan mengubah apa-apa. Gue tetap menunggu momen sedih, galau, bimbang, ragu, dan segala hal yang menyakitkan untuk menghasilkan sebuah tulisan, yang kelabu.

Gue pikir-pikir lagi, ya masa gue harus patah hati untuk bisa produktif. Hati gue cuma satu, pertanyaannya harus gue patahin berapa kali lagi? Berapa kali lagi gue harus kehilangan diri sendiri untuk bisa menghasilkan sesuatu? Seberapa dalam lagi gue harus menyakiti diri sendiri dan menjadi masokis untuk bisa mencapai orgasme lalu menulis semanis dan sekelabu ini (teteup itu tulisan favorit gue, ahehehe…)

Kadang gue bertanya-tanya sendiri juga sih, kenapa gue harus terjebak dalam kesedihan sebagai bahan bakar gue untuk bergerak? Tapi semakin gue cari, semakin ga ketemu jawabannya, atau mungkin jawabannya ya karena suka menyakiti diri sendiri aja sih, entah. Dulu karena melalui masa kelam, tetiba blog jadi, masuk dunia volunteering, yang paling berfaedah adalah secara random menginisiasi Donasi Buku bareng Rida (yang sekarang dia lebih sering kerja sendiri).

Padahal sekarang-sekarang ini ya masih dangkadang sedih-sedih ga jelas juga sih, tapi ya ga ada tulisan bagus yang jadi. Kurang sedih kali ya? hhaaa

Baiklah, mengingat betapa tidak bergunanya gue bagi diri sendiri dan khalayak ramai ketika keadaan sedang baik-baik saja, lalu sampailah pada keputusan, tampaknya gue harus mulai membebaskan diri. Menulis apapun yang terlintas di kepala gue tanpa harus menunggu patah hati, tanpa harus dirundung pilu, tanpa harus dirantai pemilihan diksi, kata-kata EYD, paragraf berima, dengan harapan gue bisa kembali produktif menulis. Supaya kesakawan gue akan menulis tuntas sudah, supaya setiap ide yang menumpuk di kepala gue bisa tersalurkan. Demikian!

Nah, setelah tulisan ini mulai mengudara nanti, mari kita lihat apakah membebaskan diri semacam ini cukup untuk menjaga keberlangsungan tulis-menulis ini.

 

Jadi, kemanakah arah blog ini di kemudian hari?
Gue juga ga punya jawabannya,
Yang penting nulis dulu aja, boleh?

Advertisements

Alasan

Hari pertama puasa kemarin saya ‘menemani’ dua orang teman saya untuk berbuka puasa. Teman baik, teman sangat baik malahan.  Pembicaraan mengalir mulai dari bagaimana pengalaman malam pertama mas Nino (ehehe…^^) sampai segala polemik yang terjadi di Indonesia Raya. Yang saya bold di kalimat sebelumnya terdengar berat, tapi percaya lah, itu memang berlebihan adanya.

Sampai pada suatu ketika Mas Nino kurang-lebih berkata, “Nih Metha kayaknya paling sabar nih menghadapi gonjang-ganjing masalah SARA. Kayaknya selow aja sosmed nya”

Waktu itu singkatnya jawaban saya, karena saya punya teman-teman baik seperti Mas Nino dan Putri dan yang lainnya yang saya pikir perlu saya jaga dari tajamnya (jahatnya) omongan saya kalau saya terpancing gonjang-ganjing itu. Daripada nyakitin kalian, mendingan posting Kai yang lagi sibuk ngejar buntutnya toh.

Kemudian sekarang setelah dipikir-pikir, mau dibilang selow ya ngga juga, kadang saking gemesnya ya keceplosan juga 1-2 postingan agak nyinyir di sosmed.

Kita semua sadari bahwa dunia persosialan media sungguh panas sekali belakangan ini dan sedikit demi sedikit menjalar dengan pasti ke dunia nyata. Mungkin di balik panasnya perbincangan tentang SARA ini ada hubungan pasangan kekasih yang retak, persahabatan yang merenggang, atau parahnya perubahan status kawan jadi lawan.

Menyikapi beragamnya pandangan mengenai polemik perbedaan SARA ini sebetulnya saya cukup enggan untuk memberi respon, tapi serapat apapun telinga dan mata ditutup, hembusannya tetap bisa dirasakan. Buat saya pribadi, mudah saja abai pada apapun yang orang katakan terkait SARA ini bahkan ketika mereka menghina Yesus, Alkitab, atau apapun terkait Kekristenan sama sekali tidak jadi masalah bagi saya sejauh orang yang bicara adalah orang yang hanya teman sepintas lalu yang ga penting-penting banget atau bahkan ga penting sama sekali di kehidupan saya.

Tapi ketika masalah SARA ini dihembuskan berulang kali di media sosial oleh teman yang dekat, jujur saja, sedih. Pernah suatu ketika saya lepas kontrol dan mengkonfrontasi seorang teman dekat di status yang dia buat. Dan hasilnya, sedih yang berlipat ganda di pihak saya, entah di pihaknya bagaimana.

Mungkin beberapa dari kita mulai jenuh mendengarkan istilah Bhineka Tunggal Ika, tapi itu adalah salah satu kenyataan yang harus kita hadapi sebagai manusia sosial yang tinggal di Indonesia khususnya. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu harus sama untuk semua orang. Terlebih lagi Saya dan Anda tinggal di Indonesia, yang punya ribuan suku, ribuan dialek bahasa, dan beragam agama serta kepercayaan. Yang perlu kita lakukan sekarang ini adalah menghargai orang lain dan mematikan ego pribadi.

Dan saya mengucap syukur punya mereka yang masih menghargai saya di tengah perbedaan agama, suku maupun ras antara kami dan akhirnya mereka menjadi alasan kuat bagi saya untuk menahan setiap perkataan yang mungkin akan menyakiti banyak pihak.

Hai kalian,
Maaf kalau satu dua postingan ada yang menyinggung, dan sekali lagi
.
.
.
terima kasih sudah menjadi alasan

 

Saya Dewi Prawita
Saya Indonesia
Saya Pancasila

Hello J

Hi Daddy J,

Darimana aku harus memulai?

Engkau terlalu membingungkan untuk dimengerti. Perlu hati selayak segitiga bermuda untuk menghisap apa saja, APA SAJA, yang Kau suguhkan.

Ibuku punya hati yang seperti itu, tapi aku tidak, ya setidaknya belum.

Jadi aku harus bagaimana? Aku masih percaya, tapi kali ini apa boleh sambil marah padaMu?

yours,
.:M

Aku Punya

Pict. By Pinterest

   Pict. By Pinterest

Belakangan ini hari selalu basah, bahkan terlalu basah. Termasuk harimu, Nona. Kau terlalu sibuk mengumpulkan malam hingga lupa pada pagi yang sebenarnya sudah selalu kau genggam. Karena malam terlalu pandai menarikmu dari keramaian dan menempatkanmu pada kesendirian yang kelam.

Kulihat kau seperti sedang kehilangan dirimu (lagi). Aku tau kau pernah melakukan kesalahan, menyematkan separuh dirimu pada orang lain. Ketika orang itu pergi, hilang pula separuh dirimu. Kau limbung, tak tahu harus kemana menemukan dirimu sendiri. Susah payah kaukumpulkan serpihan dirimu, tolong jangan katakan kau terlalu dungu karena melakukan kesalahan yang sama untuk kali kedua.

Kau letakkan penamu, simpan rapi buku catatan. Sialnya, kau henti menulis. Menulis selalu memaksamu untuk membuka dirimu pada kejujuran yang rasanya seperti sedang menguliti diri sendiri. Dan kau selalu benci dikuliti, oleh diri sendiri. Kau tak ingin mengakui sedang menikmati kesalahan yang sama. Menyematkan diri dan mimpi di tangan orang lain, dan bukan tanganmu sendiri. Sebelum jauh kakimu melangkah, hentikan semuanya, wahai Nona.

Aku ingin memelukmu lebih erat, lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Kudengar samar disela lutut yang bertelut ada doa yang kemudian ditandaskan bulir air mata sebelum amin. Ada segenggam ingin yang kau pinta dari Tuhanmu, dan sekelumit ragu yang menghalangi setiap doamu.

Nona, jangan biarkan ada yang mematahkanmu. Seberapa layu langkahmu, walau hampir habis nafasmu, mereka tak perlu tahu langkahmu kerap gontai bagai tak bernyawa. Kau harus tetap berdiri dengan senyum bulan sabit di wajahmu.

Bila tak lagi kaurasa ada cinta untukmu,
aku punya.

Surat terbuka untuk Singa Kecil

tak-bisa-mengaum-seram-singa-kecil-ini--abd824

Hai Singa Kecil,

Dulu, kita seakan punya akhir pekan di setiap hari. Mengukir cerita pagi-pagi, tidur, menyiangi mimpi, tertawa, melakukan itu, lalu mengerjakan ini. Banyak. Aku memastikan ketika kita bersama, kau hanya tahu bahagia.

Lalu kini baru kusadari, adalah salah memastikan kau hanya mengenal bahagia. Saat itu dalam sejentikan jari, air matamu diperas lara, aku tak ada di sana dan sampai kini tak kunjung jumpa. Sialnya, aku belum sempat mempersiapkan hatimu untuk luka yang menganga.

Maaf.

Banyak yang berkata bahwa waktu yang akan menyembuhkan setiap luka. Tapi biar Onty beri tahu satu rahasia. Nak, terkadang waktu hanyalah ilusi yang meredam nestapa. Lukanya masih ada, hanya saja kau sedikit lupa. Untuk menyembuhkannya kau hanya perlu membiarkan hatimu untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Tumbuhlah Nak, menjadi singa besar. Sembuhkan lukamu, tunjukkan taringmu. Kau boleh hantam siapapun yang menghantammu.

Tapi

Lionel Merly Junior,

Bila kelak gegas langkahmu kian panjang, namun cinta dalam hidupmu terasa kurang, semoga untukmu kami tak hanya menjadi kenang, namun selalu menjadi sebuah pulang. Karena di sini, untukmu akan selalu ada cinta yang lapang.

Selamat ulang tahun, Singa Kecil!

With love
(Just as always),
Onty Metha

 

 

P.S.
Onty tak lagi pandai menulis seperti dulu. Keterampilan bisa berkurang, ingatan bisa lekang, namun di sini, abadi lah engkau, wahai sayang.

.

 

Kepalaku kerap berkelana, mengisi rindu dengan cemburu
Dan hatiku gemar bersenggama dengan ragu
Kamu tau pasti itu
Dan kadang kamu pun begitu

Ada jarak seribu sembilan ratus kilometer yang harus kita lipat setiap hari
Selalu ada gumpalan ragu yang harus kita bunuh pagi-pagi
Juga rindu yang tak pernah henti kita rapalkan hingga hapal mati

Hingga kemudian hari ini tahunmu berulang
Aku tak bisa ikut bersulang
Hanya bisa meminta Tuhan supaya berkatNya untukmu tak pernah berkurang

Dan…..

Sayang,
Cepat pulang!

– Jakarta, 110615

Si Secangkir Kopi Hitam (lagi)

Nona,
Kita berkencan malam ini, dan aku bahagia. Bersanding dengan “Aku” milik Sjuman Djaya, aku menikmati kecupan hangatmu di tengah dinginnya udara Dago Pakar.

Aku ingat pernah berjanji, entah hatimu merona laksana senja atau kala getir hidupmu bagai ragi yang setia memuai gundah gulana, pahitku yang kau sesap akan selalu serupa oase di padang belantara.

Di setiap tegukan aku tau betul, kini pejaman mata yang selalu diikuti senyum yang tersimpul semakin serupa seperti saat bahagiamu belum tumpul. Belakangan, kulihat hatimu kembali semarak. Aku ikut bersorak.

 

-moth-
Ditulis 21 Februari 2015,
Tol Cipularang, perjalanan Bandung-Jakarta
Diposting 11 September 2015
Belum selesai, bingung bikin epilognya